salafy

Tampilkan postingan dengan label salafy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salafy. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Tuduhan Kesesatan Wahdah Islamiyah Ternyata Salah Copot Fatwa Syaikh Bin Baz


Para ustadz-ustadz "salafy" berusaha dilejitimasi, dan dianggap paling pantas dilakukan. Bahkan oleh Ust. Lukman Ba'abduh yang banyak dipuji oleh al-akh Sofyan berusaha dibenarkan dengan hanya mencomot fatwa Syaikh bin Baz –rahimahullah-: "Namun jika sikap lemah lembut tersebut tidak bermanfaat, dan orang yang berbuat kezaliman, atau kekufuran dan kefasikan terus melanjutkan perbuatan tersebut serta tidak memperdulikan teguran dan nasehat, maka sikap yang wajib adalah menyikapi orang tersebut dengan keras serta memberikan hukuman yang pantas baginya dalam bentuk penegakkan had (baca: hukuman), ta'zir atau ancaman serta celaan sampai dia mau berhenti dari perbuatannya tersebut atau meninggalkan kebatilannya.[5]
Padahal tidak demikian yang dimaksudkan oleh Fadhilatus Syaikh bin Baz. Sikap keras dan kasar menurut beliau, harus diletakkan pada tempatnya, yaitu ketika tidak bermanfaat lagi sikap lembut dan nasehat yang baik. Sebab sebelumnya beliau –rahimahullah- mengatakan: "Tetapi bersama dengan itu, syari'at Islam tidak mengabaikan sisi kasar dan keras pada tempatnya, yaitu ketika tidak bermanfaat lagi sikap lembut serta bantahannya dengan cara baik….". Maka jelaslah di sini, bahwa Syaikh bin Baz menekankan dan mengedepankan sikap lembut dalam berdakwah. Bukan dengan kata-kata kasar, tidak beretika sebagaimana dilakukan oleh ustadz-ustadz "salafy".
Sikap keras dan tegas itu baru dilakukan setelah melalui proses tertentu dan ditujukan pada orang tertentu pula, yakni mereka yang selalu berbuat kezaliman, kekufuran dan kefasikan. Sama sekali bukan diarahkan pada para ulama yang menentang kezaliman, kekufuran dan kefasikan.[6]
Dan dari perkataan beliau –rahimahullah- di atas pula, tersirat bahwa nasehat (keras dan kasar jika sikap lemah lembut tidak lagi bermanfaat) itu diarahkan kepada orang yang masih hidup dan bukan yang telah meninggal.
Olehnya bandingkan antara fatwa di atas dengan sikap kelompok "salafy" yang terus menggeber dan membongkar aib-aib (menurut versi mereka) para ulama dan pejuang Islam yang telah lama menemui Rabb-nya. Pertanyaannya, apakah Syaikh bin Baz –rahimahullah- sebagai sang empunya fatwa mengaplikasikan fatwa beliau tersebut seperti yang dilakukan oleh ustadz-ustadz "salafy" yang hanya asal mencomot fatwa dari beliau?? Kalla.!! (sama sekali tidak.!!)…semestinya tatkala mereka ingin memahami fatwa tersebut, juga harus melihat secara langsung bagaimana aplikasinya berupa sikap dan perbuatan selama hayat beliau terhadap orang lain yang menyelisihi beliau atau terjatuh dalam kesalahan.
Perhatikan ucapan tulus yang terlontar dari Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi saat menghaturkan belasungkawa yang mendalam atas kepergian sang imam: "Sungguh ulama ummat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat adalah Syaikh bin Baz….". (Fi Wada' al-A'lam, hal. 62-63).
Bahkan kalau mau jujur, bahwa diantara sikap keras dan "kasar" yang pernah dipraktekkan oleh Syaikh bin Baz dalam hal memberi nasehat adalah kala beliau menegur para pendahulu ustadz-ustadz "salafy" sekitar tahun 90-an.
Saat itu beliau mengeluarkan keterangan resmi yang mengingkari dan mencela tindak-tanduk para pendahulu mereka. Begitu teguran "keras" dari Syaikh terbit, mereka lantas bersegera menghadap Syaikh meminta maaf dan memohon rekomendasi dari beliau. Dan sekali lagi, lantaran sikap lemah lembut dan arif serta tasamuh beliau, maka Syaikh pun memberi mereka tazkiyah dan juga kepada Syaikh-Syaikh lainnya yang bukan dari kelompok "salafy" tersebut. Diantara yang dikatakan Syaikh bin Baz tentang kelompok "salafy" pendahulu Sofyan Khalid dalam keterangan resmi beliau adalah sebagai berikut:
– Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyifati Khawarij sebagai ahli bid'ah. Mereka disifati dan dinamai dengan nama mereka. Hadits tentang mereka mutawatir datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan keadaan dan karakter mereka, dimana beliau bersabda: "Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala".[7]
– Kemudian, diantara karakter Khawarij –tetapi kami tidak mengatakan mereka sebagai Khawarij- adalah kesukaan mereka yang dengan sengaja mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir dan meletakkannya atas orang Islam, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Abu Said al-Khudri, dan lainnya –radhiallahu anhum-.[8]
– Cara yang mereka lakukan menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya dari dua segi. Pertama, ini adalah tindakan sabotase terhadap hak-hak manusia di kalangan kaum muslimin. Bahkan lebih khusus lagi, yang diserang adalah para penuntut ilmu dan da'i yang telah mempersembahkan segala kemampuannya untuk berdakwah dan mengajar manusia untuk memahami aqidah dan manhaj yang benar. Para da'i ini juga telah bersungguh-sungguh dalam memberikan pengajian, pengajaran, dan menulis buku-buku yang bermanfaat. Kedua, ini adalah pemecah-belah kesatuan kaum muslimin dan menyobek-nyobek barisan mereka. Padahal, seharusnya mereka bersatu dan menjauhi sikap perpecahan dan saling menggunjing satu sama lain. Bayangkan, mereka mencuplik rekaman kaset ceramah seorang Syaikh, lalu juga mencuplik rekaman Syaikh lain yang membantah. Syaikh ini berkata begini dan Syaikh satunya lagi membantah. Bukankah ini adalah perpecahan?? Jadi, apa maksud semua ini? [9]
Berikut ini kami akan paparkan fatwa-fatwa ulama mu'tabar berkaitan dengan masalah ini.
Fatwa dan Nasehat berharga Syaikh bin Baz –rahimahullah- tentang adab mengkritik dan mengoreksi di kalangan para da'i Ahlu Sunnah
"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu Nabi yang terpercaya, juga bagi keluarga dan para sahabatnya serta orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba'd.
Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan serta melarang kezaliman, melanggar hak orang lain dan permusuhan. Allah telah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan keadilan dan melarang beliau mengerjakan lawan dari keadilan berupa peribadatan kepada selain Allah, perpecahan, perceraiberaian dan pelanggaran hak-hak para hamba.
Di masa ini telah tersebar banyak orang yang dikenal dengan ilmu dan dakwah kepada kebaikan terjatuh dalam pencelaan terhadap harkat dan kehormatan banyak saudara-saudara mereka –yaitu para da'i yang sudah dikenal-. Mereka juga mencela kehormatan para penuntut ilmu, para du'at dan para khatib. Mereka melakukan demikian secara sembunyi-sembunyi di majelis-majelis mereka. Dan terkadang merekam pembicaraan tersebut dalam kaset-kaset yang disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan pada pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Metode yang mereka tempuh ini menyelisihi perintah Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari banyak segi:
Pertama, metode ini merupakan pelanggaran hak-hak kaum muslimin, bahkan pelanggaran terhadap hak-hak orang-orang khusus yaitu para penuntut ilmu dan da'i yang telah mengorbankan usaha mereka dalam rangka memberi nasehat kepada masyarakat, membimbing mereka, dan meluruskan aqidah dan manhaj mereka. Mereka telah bersusah payah untuk mengatur pelajaran-pelajaran dan pengajian-pengajian serta menulis buku-buku yang bermanfaat.[10]
Kedua, metode ini memecahkan persatuan kaum muslimin dan merobek barisan mereka.[11] Padahal kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan menjauhi perceraiberaian dan perpecahan. Demikian pula begitu banyak isu-isu yang tersebar diantara mereka. Terlebih lagi, para da'i yang dicela termasuk kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang dikenal memerangi bid'ah dan khurafat, menghadang orang-orang yang menyeru kepada bid'ah dan khurafat, serta mengungkap dan membongkar rencana-rencana jahat serta makar mereka. Kami memandang adanya mashlahat dari perbuatan seperti ini, jika diarahkan bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid'ah, dan kesesatan lain yang senantiasa menunggu-nunggu kesempatan.[12]
Ketiga, perbuatan seperti ini membantu orang-orang yang memiliki tujuan-tujuan buruk dari kalangan sekuler, para pengekor barat, kalangan atheis dan selainnya yang terkenal senang mencela para da'i dan berdusta tentang mereka, serta suka memprovokasi untuk melawan para da'i, sebagaimana tercantum dalam berbagai buku dan rekaman mereka. Bukanlah termasuk hak persaudaraan islamiyah sikap mereka yang terlalu terburu-buru –dalam mencela para da'i-. Hal ini membantu para musuh untuk menyerang saudara-saudara mereka dari kalangan para penuntut ilmu, da'i dan selainnya.[13]
Keempat, perbuatan ini menyebabkan rusaknya hati masyarakat umum, juga orang-orang khusus (para da'i dan semisalnya) sekaligus menyebabkan tersebarnya kedustaan-kedustaan dan kabar-kabar yang tidak benar. Demikian pula ia menyebabkan banyaknya perbuatan ghibah dan namimah (adu domba) sekaligus membuka pintu-pintu keburukan selebar-lebarnya, karena lemahnya jiwa yang senang menyebarkan syubhat-syubhat serta mengobarkan fitnah sekaligus giat dalam mengganggu kaum mukminin tanpa sebab yang mereka perbuat.[14]
Kelima, kebanyakan perkataan yang dilontarkan sama sekali tidak benar, namun hanya merupakan persangkaan-persangkaan keliru yang dihiasi oleh setan kepada para pengucapnya. Setan memperdaya mereka dengan hal ini, Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain". (Qs. Al-Hujuraat : 12). Seorang mukmin hendaknya membawa perkataan saudaranya sesama muslim kepada makna yang paling baik. Sebagian salaf berkata: "Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan persangkaan buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari lisan saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau arahkan pada (makna) yang baik".[15]
Keenam, segala yang lahir dari hasil ijtihad sebagian ulama dan para penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang masih diperbolehkan ijtihad di dalamnya, maka pelakunya tidak mendapat hukuman dan tidak pula dicela, apabila ia memang layak untuk berijtihad.[16] Kalau ada orang lain yang menyelisihinya maka yang paling layak untuk dilakukan adalah berdiskusi dengan cara yang baik dalam rangka mencapai kebenaran dengan menempuh jalan terdekat. Hal ini untuk menolak was-was setan dan metode adu dombanya diantara kaum mukminin. Jika hal ini tidak terlaksana dan seseorang memandang wajib menjelaskan penyimpangan, maka hendaknya: (1). Penjelasan tersebut menggunakan ibarat yang paling baik dan yang paling halus.[17] (2). Tanpa sikap menyerang, melukai atau berlebih-lebihan dalam perkataan yang terkadang menyebabkan tertolaknya kebenaran dan berpaling dari kebenaran.[18] (3). Tanpa menyebut (nama) pelakunya,[19] (4). Atau menuduh mereka memiliki niat (buruk), atau menambah pembicaraan tanpa adanya alasan yang membenarkan hal itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri bersabda dalam perkara seperti ini: "Mengapa suatu kaum mengucapkan ini dan itu…".
Nasehatku kepada saudara-saudaraku yang melakukan ghibah terhadap para da'i dan mencederai kehormatan mereka, agar bertaubat kepada Allah dari perkara-perkara yang telah ditulis oleh tangan-tangan mereka, atau yang dilafazkan oleh lisan mereka yang menyebabkan rusaknya hati sebagian para pemuda, memenuhi hati mereka dengan hasad dan dengki, serta menyibukkan mereka hingga tidak menuntut ilmu yang bermanfaat. Hendaknya mereka bertaubat dari model dakwah mereka yang dipenuhi oleh qila wa qaala (katanya…katanya…), bertaubat dari nukilan perkataan dari fulan dan fulan, mencari-cari perkara yang dianggap merupakan kesalahan orang lain dan berusaha menjerat kesalahan-kesalahan tersebut.
Sebagaimana juga saya menasehati mereka untuk menyebut (mencabut) kesalahan-kesalahan mereka dengan cara menulis atau selainnya yang menunjukkan bahwa mereka berlepas diri dari perbuatan-perbuatan seperti itu, sekaligus menghilangkan apa yang telah tertancap dalam otak orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka. Hendaknya mereka bergerak menuju amalan-amalan yang membuahkan hasil yang baik, mendekatkan mereka kepada Allah dan bermanfaat bagi para hamba.
Hendaknya mereka menjauhi sikap tergesa-gesa dalam mengkafirkan atau memfasiq-kan atau mem-bid'ahkan orang lain tanpa penjelasan dan dalil.[20] Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berkata pada saudara (muslim)nya: "Wahai Kafir", maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya", (Muttafaq Alaihi).
Merupakan perkara yang disyari'atkan bagi para penyeru kebenaran dan penuntut ilmu, apabila mereka tidak memahami perkataan ahli ilmu dan selainnya, maka hendaknya mereka merujuk kepada para ulama yang mu'tabar, bertanya kepada mereka agar menjelaskan perkara yang sebenarnya dengan jelas, sehingga mereka mengetahui hakikat perkaranya yang benar, juga untuk menghilangkan keraguan dan syubhat yang terdapat dalam diri-diri mereka, sebagaimana tercermin dalam firman Allah: "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkan-nya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentunya orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidak karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantaramu)". (QS. An-Nisaa : 83).
Kepada Allah-lah kita memohon agar memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin dan menyatukan hati serta amalan mereka di atas ketakwaan. Semoga Allah memberi taufiq kepada seluruh ulama kaum muslimin, juga seluruh penyeru kebenaran untuk melakukan perkara yang diridhai oleh Allah dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Semoga Allah menyatukan kalimat mereka di atas petunjuk dan menjauhkan mereka dari sebab-sebab perpecahan dan perselisihan. 

Minggu, 06 November 2016

Kisah Cinta Sejati, Lelaki Pilihan Rasulullah




Cinta bersujud di Mihrab Taat, seperti kisah yang tidak termakan waktu ini, kekal untuk dijadikan panutan cinta. Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.  Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.  Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian ! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya !”  Demikianlah Julaibib.  Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah ?”  ”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini ?”  Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah ?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.  Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”  ”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”  ”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”  ”Julaibib ?”, nyaris terpekik ayah sang gadis.  ”Ya. Untuk Julaibib.”  ”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”  ”Dengan Julaibib ?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta ? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”  Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta ?”  Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.  ”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah ? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36) Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”  Doa yang indah.  Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.  Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya. Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”  Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.  Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.  Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.  Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang ?”  “Tidak Ya Rasulallah !”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.  “Apakah kalian kehilangan seseorang ?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.  “Tidak Ya Rasullallah !” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.  Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.  Para shahabat tersadar.  “Carilah Julaibib !”  Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.  Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”  Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu ?   Semoga renungan ini bermanfaat..

Kamis, 20 Oktober 2016

Hamba Menjadi Dekat Dengan TuhanNya Dengan Sujud


Ibadah akan sempurna jika di saat yang sama terkumpul dua hal, seorang hamba merendahkan diri serendah-rendahnya, dan di saat yang sama mengagungkanNya setinggi-tingginya.
Sujud adalah saat dimana seorang hamba berada dalam kondisi paling dsekat dengan Allah. Sebagaimana Rasulullah katakan:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد

“Kondisi saat seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud.” (HR Muslim)
“Sujud adalah..”, kata Ibnul Qayyim ketika menjelaskan rahasia di balik ibadah shalat, “..’ubudiyyah yang paling penting dalam shalat, dan yang paling krusial dibandingkan rukun-rukun yang lainnya. Oleh karena itu, sujud dijadikan sebagai penutup. Sedangkan rukuk dan ritual-ritual yang lain sebelumnya, diumpamakan sebagai pembuka dan pelengkap.”
Inilah salah satu hikmah, mengapa Rasulullah perintahkan kita agar bersungguh sungguh memanjatkan do’a saat bersujud. Sujud, identik dengan thawaf dalam ibadah haji. Thawaf juga kondisi ketika seorang hamba sedang berada pada kondisi sangat dekat dengan Allah dan disunnahkan memperbanyak do’a. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah atsar dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Saat itu ada yang hendak melamar putrinya ketika beliau sedang thawaf. Beliau diam saja hingga selesai thawaf, kemudian beliau katakana:

أتذكر أمرا من أمور الدنيا ونحن نتراءى الله في طوافنا

“Tidak pantas aku mengingat urusan dunia sementara kita melihat Allah dalam thawaf kita”
Terkait ibadah yang bernama sujud ini, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa yang bisa bersujud bukan hanya fisik saja. Bukan sekedar anggota badan. Hati juga bisa bersujud. Bagaimana jika hati telah bersujud? Beliau katakan dalam Majmu’ Fatawa: “Demi Allah, ia adalah sebentuk sujud yang tidak akan pernah berhenti dan mengangkat kepalanya hingga ia bertemu dengan Allah ta’ala.”
Seperti kisah Abu Firas radhiyallahu ‘anhu, bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. beliau merupakan merupakan ahlus shuffah. Abu Firas adalah Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami nama aslinya. Bermalam (mabit) bersama Rasulullah adalah kesempatan bagi para sahabat untuk menikmati shalat malam yang panjang nan khusyu’ di belakang sang qudwah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Sebelum shalat, Abu Firas membawakan wadhu’ (air wudhu’ beserta tempatnya) dan beberapa perlengkapan untuk beliau. Melihat kebaikan Abu Firas seperti ini, tidak lantas Rasulullah diam saja. Beliau bukan sekedar berterima kasih dengan kata-kata, bahkan beliau persilahkan Abu Firas untuk meminta sesuatu. “Salni…”, kata Rasulullah. “Mintalah sesuatu kepadaku..”. Permintaan apa saja. Dan sebagaimana kita tahu Rasulullah tidak pernah mengatakan “tidak”, selama beliau sanggup penuhi permintaan tersebut.
Abu Firas radhiyallahu ‘anhu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ini adalah kesempatan emas. Mungkin tak akan terulang kembali seumur hidup. Pernah ada salah seorang sahabat yang meminta pakaian baru kepada Rasulullah, hadiah istimewa dari salah seorang shahabiyyah. Pakaian tersebut waktu itu sedang beliau kenakan. Mendengar permitaan seperti itu, Rasullah pun masuk rumah, melipat, dan kemudian beliau berikan. Rupanya sahabat tadi ingin ber-tabarruk dengan menjadikan pakaian tersebut sebagai kain kafan. Pernah juga ada salah seorang Arab Badui yang meminta kambing sepenuh lembah yang ada di antara dua gunung. Rasulullah pun berikan. Abu Firas faham akan hal ini, Rasulullah tidak pernah menolak ketika dimintai sesuatu.
Abu Firas pun berfikir, permintan jenis apa yang kira-kira beliau sanggupi, dan bermanfaat hingga kelak di akhirat. Abu Firas memikirkan akhirat. Abu Firas tidak ingin meminta pakaian. Tidak pula kambing. Jangankan kambing, ratusan unta pun pernah Rasululllah berikan kepada Shafwan bin Umayyah putra dedengkot musyrikin Umayyah bin Khalaf, pasca perang Hunain. Abu Firas meminta satu hal yang teristimewa, untuk kelak di surga.
“As’aluka muraafaqataka fil jannah”. Aku ingin membersamaimu nanti di surga wahai Rasulullah. Pinta Abu Firas.
“Ada yang lain?”, tanya Rasulullah.
“Huwa dzaaka, hanya itu wahai Rasulullah”, jawab Abu Firas.
“Kalau begitu..”, kata Rasulullah menjawab permintaan istimewa dari Abu Firas ini,”..bantulah aku dengan memperbanyak sujud.”
Subhaanallah. Permintaan istimewa dari orang-orang istimewa, kepada manusia paling istimewa, harus dicapai dengan cara yang istimewa pula.
Sujud, Rasulullah sebut secara khusus. Rasulullah tidak menyebut kata shalat, tapi mengkhususkan kata sujud. Sebegitu istimewakah sujud itu?
Sujud adalah kondisi ketika manusia sedang merendah di hadapan Rabb-nya. Terbuat dari tanah, sedang menyungkur bersama anggota badannya di atas tanah. Bersama kepala, tangan, dan kaki, dan tentu saja bersama hati. Satu irama. Saat inilah seharusnya seorang hamba benar-benar merasa rendah di hadapan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Merasa kerdil. Merasa hina di hadapan Dzat Yang Maha Mulia.

Allahumma a’innaa ‘ala dzikrika wsyukrika, wahusni ‘ibaadatika. [bii/ok]