Senin, 23 Juli 2018

Pensiunnya Ozil di Timnas Jerman Disebabkan Agamanya Islam?


OOT, pensiunnya Ozil

" Bagi beberapa orang saya orang Jerman ketika menang, ketika kalah saya disebut imigran, saya sudah membayar pajak, mendonasikan fasilitas pada disekolah Jerman, saya membantu juara World Cup 2014, tapi saya tetap tidak diterima di sebagian Masyarakat Jerman " 

" Apakah ada kriteria yang belum saya penuhi untuk jadi orang Jerman ? Teman saya Podolski dan Klose tidak pernah disebut Jerman-Polandia, kenapa saya disebut Jerman-Turkey, apa karna saya muslim ? "

" Perlakuan yang saya dapatkan dari DFB & yang lain membuat saya tidak ingin menggunakan jersey Jerman lagi, saya merasa tidak dibutuhkan, sejak 2009 saya debut, mereka melupakan semuanya, seharusnya orang yang punya sifat diskriminatip & rasis tidak boleh bekerja di federasi sepakbola dunia " 

" Dengan berat hati setelah saya pertimbangkan saya putuskan untuk tidak bermain lagi, dulu saya bangga memakai jersey ini, tapi sekarang tidak, saya tidak akan diam saja ketika rasisme berlaku hanya saya saja, karna saya sudah memberikan semuanya untuk rekan-rekan, staf & Jerman tentunya " 

#Respect

Jumat, 20 Juli 2018

Tua adalah Hidup Disepertiga Waktu yang Terakhir


MENUA

Bagiku bagaimana menjadi tua itu teramat penting, agar paham pilihan yang tepat untuk mengisinya, lalu mengakhiri hidup ini dengan cara yang Allah inginkan... Bagiku bagaimana menjadi tua itu teramat penting, karena betapa banyaknya manusia yang menjalani mudanya dengan amal-amal ahli surga namun mengakhiri hidupnya dengan amal ahli neraka... Bagiku bagaimana menjadi tua itu teramat penting, karena husnul 'amal itu sepatutnya berujung pada husnul khatimah, karena akhir itu lebih baik daripada permulaan : "Dan sungguh akhir itu lebih baik daripada permulaan" (QS Adh-Dhuhaa :  4)

Tua adalah hidup di sepertiga waktu yang terakhir, dan Islam selalu memberikan kemuliaan pada sepertiga yang terakhir : sepertiga malam terakhir, sepertiga Ramadhan terakhir, sepertiga suapan terakhir, sepertiga tahun terakhir... Tua adalah bagaikan hidup di waktu Ashar menjelang Maghrib, usia yang difokuskan untuk beriman, beramal shaleh, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Atau Si Tua akan hidup dalam kerugian : "Demi Ashar. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman dan berama; shaleh. Dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (QS Al-'Ashr)

Memastikan usia tua dalam jalan kebenaran sungguh bukan hal mudah, karena setiap jenjang usia ada penggodanya sendiri. Muda mungkin digoda dengan dunia, nafsu, ledakan emosional, ambisi, egoisme dan kekeraskepalaan. Namun tua justru digoda dengan keinginan untuk keluar dari hiruk-pikuk dunia, menjauhi konflik, ingin istirahat, menjadi safety player, to be a good guys, atau menjadi moderat. Tampak indah dan bijaksana, bukan ? Ya... tapi justru di sanalah penggodanya... Sebagaimana seorang Abid digoda dengan ibadahnya... Sebagaimana seorang dermawan digoda dengan kedermawanannya...

Orang bilang tua identik dengan menjadi lebih bijak dan moderat. Ya... dan itu sesuatu banget, alhamdulillah. Tapi itu pulalah cobaan terbesarnya. Terkadang menjadi bijak dan moderat itu membuat kaum tua telah mengganti garis tegas menjadi garis putus-putus... mengganti konflik dengan kompromi... mengubah hitam-putih menjadi abu-abu... Dan cobaan bijak-moderat ini makin meraksasa di akhir jaman, jaman di mana hati dibolak-balik, istiqamah menjadi barang mahal, sedangkan Rasulullah SAW justru meminta ummatnya untuk mensikapi akhir jaman dengan garis-garis ketegasan.

Sungguh Allah telah mempertontonkan kepadaku tentang tetua-tetua yang terjerembab dalam "kebijaksanaan" dan sikap "moderat"nya. Mungkin karena mereka menyalahartikan bijak-moderat sebagai sikap pertengahan. Padahal bijak-moderat dimaknai Islam sebagai adil dan proporsional. Mereka bilang wasit adalah manusia pertengahan, sehingga ummatan wasathan adalah ummat pertengahan. Padahal wasit adalah pengadil, dan ummatan wasathan adalah ummat penegak keadilan... Dan mereka yang ekstrem kiri-kanan di masa muda, juga berpotensi ekstrem moderat saat menua...

"Celakanya", ternyata menjadi Muslim tua di masaku akan berhadapan dengan cobaan dan godaan MODERAT TERSTRUKTUR. Ada yang menguji sikap-sikap tuaku dengan istilah radikalisme, intoleran, dan anti-kebihinnekaan. Sungguh ketuaanku tak suka dengan istilah-istilah itu dan menghindari sikap-sikap semacam itu. Lalu, telah disediakan pula untuk kaumku Agama Rahmatan Lil-'alamin yang kini resmi bernama Islam Nusantara yang santun, lembut, toleran, pertengahan, ramah-tamah. Haruskah aku bertekuk lutut dengannya agar aku tampak telah benar-benar menjadi tua, moderat  dan menjadi bijak ?

Beberapa tetua tampak telah bertekuk lutut. Mungkin karena mereka telah lelah berkelahi di masa muda. Telinga tua mereka sudah tak sanggup lagi mendengar suara bising pertengkaran tak berujung. Padahal di usia yang sama Rasulullah SAW baru mulai berperang, mendengar bisingnya suara pedang beradu, dan mengusir kaum Yahudi. Yaa Rabbii... matikanlah aku dalam husnul khatimah, aamiin...

Ditulis Oleh Ust.Adriano Rusfi

Rabu, 18 Juli 2018

Catatan dari Buku Harian Seorang Ibu


Bismillah: membaca ini tak terasa air mataku mengalir. .😭😭😭...

Catatan dari buku harian seorang ibu ....

Dulu ... rumahku ini ramai dengan anak2 ku ...
'
tawa mereka ... 

Tangis mereka ... juga pertengkaran antara mereka ...

 Buku2 berserakan disetiap sudut ruangan ...

 pensil , baju , mainan bertebaran di atas tempat tidur

 ... karena jengkelnya akupun berteriak : " cukup... jangan buat kekacauan dirumah ! ..

 ayo masing2 barang nya dibereskan ... 

susun rapi di tempatnya ! " .. 

Di pagi hari menjelang waktu sekolah ...

 seorang anakku mengadu : " ummi ... buku dan penaku hilang entah dimana ?" ..
. anak yang kedua berkata : " ummi ... mana bedaknya ?" ..

 anakku yang ketiga merengek :" ummi ... susunya tumpah " ...

yang keempat ... sambil memegangi kakiku mengadu cemas : " ummi ... aku belum
 mengerjakan PR "

 .... semua ... semua mereka mengeluhkan kelalaian nya masing2 ... 

Saat ini .. aku sudah tua ... 

anak2 sudah dewasa ... 

aku berdiri di depan pintu kamar anak2 ku ... tempat tidur

 tersusun rapi .. kosong tidak ada lagi yang tidur disana ... di lemari hanya ada sedikit pakaian ... pakaian masa kecil milik mereka ... 
di rumah ini sekarang sepi sekali ... tidak ada lagi yang tersisa selain aroma harum tubuh anak2 ku ... 

ya .. setiap anak2 ku itu memiliki bau yang khas bagiku ...

 aku menghirup udara dalam2 ... bau tubuh mereka seakan kembali ... meringankan rasa rindu yang menyesakkan dadaku .

. kenangan2 itu pun datang kembali ... kala aku marah pada seorang anakku ... ia langsung berlari dan memeluk kakiku : " maaf kan aku ... ummi " rintihnya ... dan ... tak terasa ... air mataku pun jatuh ... Anak2 kini sudah mandiri ... hidup di tempat2 yang jauh dengan keluarga masing2 ..

satu persatu meninggalkan rumah dengan

 ucapan yang sama : " jazakillah khairan ummi ... untuk semua kebaikan ... untuk semua kasih sayang ... 

aku tak akan pernah bisa membalas jasa ummi ... mohon doamu ummi " ...

 Ya ALLAH ... ingin rasanya kembali ke masa lalu ... waktu dimana anak2 masih kecil2 ....

Pesanku untukmu wahai para ibu ... nikmatilah tangisan ... rengekan dan suara teriakan anak2 mu ... nikmatilah bila buku2 .. pena .. mainan2 mereka berserak dan bertebaran ... nikmatilah setiap ketidak rapian rumah disebabkan ulah mereka ... jangan membentak ... jangan berteriak ... semua itu akan menjadi kenangan manis ... kenangan yang indah ... setiap ibu pasti akan mengalami seperti yang kini ku alami ... hari dimana setiap anak ... satu persatu akan keluar meninggalkan rumah tempat lahir mereka ... setiap satu anak ku keluar dengan membawa/ menyeret tas / koper nya ... ia ikut serta membawa/menyeret hatiku bersamanya ... ku peluk pintu itu setiap satu anak pergi ... aku memeluk pintu itu karena lututku gemetar ... separuh jiwaku seakan terbang pergi bersamanya ... lalu aku kembali mengumpulkan kekuatanku ... menghadapi sisa hidup sepi yang harus ku jalani ....

Selasa, 17 Juli 2018

Rintihan Perawan Tua Untuk Laki-laki




ﺗﺰﻭﺟﻮﻧﺎ .. ﺍﺳﺘﺮﻭﻧﺎ .. ﺍﺭﺣﻤﻮﻧﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭ ﺍﻟﻌﻨﻮﺳﺔ ..

Nikahilah kami, lindungilah kami, sayangilah kami (terhindar) dari neraka perawan tua .

ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺍﻗﺘﺮﺏ ﻋﻤﺮﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﻛﻨﺖ ﺃﺣﻠﻢ ﻛﺄﻱ ﻓﺘﺎﺓ ﺑﺸﺎﺏ ﻣﻠﺘﺰﻡ ﺫﻱ ﺧﻠﻖ ﻭﻛﻨﺖ ﺃﺑﻨﻲ ﺍﻷﻓﻜﺎﺭ ﻭﺍﻵﻣﺎﻝ، ﻭﻛﻴﻒ ﺳﻨﻌﻴﺶ ﻭﻛﻴﻒ ﺳﻨﺮﺑﻲ ﺃﻃﻔﺎﻟﻨﺎ، ﻭ .…ﻭ .… ﺇﻟﺦ .

Ketika umurku mendekati 20 tahun, aku pernah mengimpikan seperti gadis lainnya, untuk mendapatkan seorang pemuda (ikhwan) yang
konsisten dengan agamanya, berakhlak mulia, ketika itu akupun mulai menyusun pikiran dan angan-angan, dan bagaimana cara mendidik anak kami, dan… dan… seterusnya .

ﻭﻛﻨﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺎﺭﺏ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ ﻭﺍﻟﻌﻴﺎﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ، ﻓﺒﻤﺠﺮﺩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻟﻮﺍ ﻟﻲ ﻓﻼﻥ ﺗﺰﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺗﺠﺪﻧﻲ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻌﻮﺭ، ﺃﺩﻋﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺃﻗﻮﻝ : ﻟﻮ ﻛﻨﺖ ﻣﻜﺎﻧﻬﺎ ﻟﺮﻣﻴﺘﻪ ﻣﺜﻠﻤﺎ ﺭﻣﺎﻧﻲ،

Aku adalah termasuk orang yang memerangi poligami –semoga Allah melindungi dari sikap itu-sehingga, semata-mata mereka mengatakan
kepadaku: si fulan menikah lagi, aku lepas control, sehingga aku melaknat laki-laki itu, dan mengatakan, kalau aku di posisi istrinya aku akan melakukan seperti apa yang dilakukan kepadaku .

ﻭﻛﻨﺖ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺃﺗﻨﺎﻗﺶ ﻣﻊ ﺃﺧﻲ ﻭﺃﺣﻴﺎﻧﺎً ﻣﻊ ﻋﻤﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ ﻭﻳﺤﺎﻭﻟﻮﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﻨﻌﻮﻧﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﻣﺘﻌﻨﺪﺓ ﻻ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻗﺘﻨﻊ، ﻭﺃﻗﻮﻝ ﻟﻬﻢ ﻣﺴﺘﺤﻴﻞ ﺃﻥ ﺗﺸﺎﺭﻛﻨﻲ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﻓﻲ ﺯﻭﺟﻲ .

Dan aku selalu berdebat dengan saudara laki-lakiku, dan terkadang dengan pamanku tentang poligami, mereka berusaha untuk meyakinkan kepadaku untuk menerimanya, namun aku tetapi berkeras kepala dan tidak ingin menerimanya,
akupun mengatakan kepada mereka, " mustahil wanita lain menyertaiku dalam suamiku .

ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﺗﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﻣﺸﻜﻠﺔ ﺑﻴﻦ ﺯﻭﺝ ﻭﺯﻭﺟﺘﻪ ﻷﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺃﺣﺮﺿﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﺗﺜﻮﺭ ﺛﺎﺋﺮﺗﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ .

Terkadang, aku menjadi penyebab (actor) dalam pertingkaian antara suami dan istri, karena suaminya ingin menikah lagi, dan akupun
memprovokasinya sehingga ia memberontak kepada suaminya .

ﻭﻣﺮﺕ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﻧﺘﻈﺮ ﻓﺎﺭﺱ ﺃﺣﻼﻣﻲ، ﺍﻧﺘﻈﺮﺕ ﻟﻜﻨﻪ ﺗﺄﺧﺮ ﻭﺍﻧﺘﻈﺮﺕ ﻭﻗﺎﺭﺏ ﻋﻤﺮﻱ ﺍﻟﺜﻼﺛﻴﻦ .

Hari-hari pun berlalu, sedengankan aku menunggu dan menunggu arjuna (udo –minang) impianku,
namun tak kunjung datang, aku selalu menunggu sementara umurku sudah mendekati 30 tahun .

ﻳﺎ ﺇﻟﻬﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟ ﻫﻞ ﺃﺧﺮﺝ ﻭﺃﺑﺤﺚ ﻋﻦ ﻋﺮﻳﺲ؟ ﻻ ﺃﺳﺘﻄﻴﻊ، ﺳﻴﻘﻮﻟﻮﻥ ﻫﺬﻩ ﻻ ﺗﺴﺘﺤﻲ، ﺇﺫﺍً ﻣﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟ ﻟﻴﺲ ﻟﻲ ﺇﻻ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﻭﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻛﻨﺖ ﺟﺎﻟﺴﺔ ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺇﺣﺪﺍﻫﻦ ﺗﻘﻮﻝ : ‏(ﻓﻼﻧﺔ ﻋﻨﺴﺖ ‏)، ﻗﻠﺖ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﺴﻜﻴﻨﺔ ﻓﻼﻧﺔ ﻟﻘﺪ ﻋﻨﺴﺖ .. ﻭﻟﻜﻦ … ﻓﻼﻧﺔ ﺇﻧﻪ ﺍﺳﻤﻲ !!

Ya Allah, apa yang aku lakukan? Apakah aku keluar dan mencari marapulai (pengantin laki-laki minang), aku tidak bisa, mereka akan mengatakan, tidakkah pertua (perawan tua) itu malu? Lalu apa
yang aku lakukan? Tiada lain bagiku kecuali penantian. Pada suatu hari, aku duduk, dan aku mendengar selah seorang wanita mengatakan: si fulanah sudah menjadi perawan tua, akupun mengatakan dalam hati ku, wah… sangat kasihan si fulanah itu dia telah menjadi pertua, namun… si fulanah itu taunya namaku

ﻳﺎ ﺇﻟﻬﻲ ﺇﻧﻪ ﺍﺳﻤﻲ ﺃﻧﺎ ﺃﺻﺒﺤﺖ ﻋﺎﻧﺴﺔ، ﺻﺪﻣﺔ ﻗﻮﻳﺔ ﺟﺪﺍً ﻣﻬﻤﺎ ﻭﺻﻔﺘﻬﺎ ﻓﻠﻦ ﺗﺤﺴﻮﺍ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﺻﺒﺤﺖ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﺃﻧﺎ ﻋﺎﻧﺲ .

Ya Allah, tahunya namaku, aku sudah menjadi perawan tua? Shok/trauma yang kuat sekali, bagaimanapun aku mengambarkannya kalian tidak akan bisa merasakannya, aku sudah berada di depan realita, aku adalah perawan tua.

ﻭﺑﺪﺃﺕ ﺃﺭﺍﺟﻊ ﺣﺴﺎﺑﺎﺗﻲ ﻣﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻳﻤﻀﻲ ﻭﺍﻷﻳﺎﻡ ﺗﻤﺮ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﺻﺮﺥ، ﺃﺭﻳﺪ ﺯﻭﺟﺎً ﺃﺭﻳﺪ ﺭﺟﻼً ﺃﻗﻒ ﺑﻈﻠﻪ ﻳﻌﻴﻨﻨﻲ ﻭﻳﻘﻀﻲ ﺃﻣﻮﺭﻱ، ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻋﻴﺶ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻧﺠﺐ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﺗﻤﺘﻊ ﺑﺤﻴﺎﺗﻲ .

Akupun mulai menghitung-hitung , apa yang akan aku lakukan, sementara waktu terus berjalan, hari-hari terus berlalu, aku ingin berteriak, aku ingin seorang suami, aku ingin seorang laki-laki, yang
mana aku berdiri di naungannya, yang akan membantuku dan memenuhi kebutuhanku, aku ingin hidup, aku ingin punya anak, aku ingin menikmati hidupku

ﺟﺎﺀﻧﻲ ﺃﺧﻲ ﺍﻷﻛﺒﺮ ﺫﺍﺕ ﻣﺮﺓ ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻲ : ﻟﻘﺪ ﺟﺎﺀﻙ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻋﺮﻳﺲ ﻓﺮﺩﺩﺗﻪ، ﻭﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻌﻮﺭ ﻣﻨﻲ ﻗﻠﺖ ﻟﻪ ﻟﻤﺎﺫﺍ؟ ﺣﺮﺍﻡ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻷﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪﻙ ﺯﻭﺟﺔ ﺛﺎﻧﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﻋﺮﻑ ﺃﻧﻚ ﺗﺤﺎﺭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ . ﻭﻛﺪﺕ ﺃﺻﺮﺥ ﻓﻲ ﻭﺟﻬﻪ : ﻭﻟﻤﺎﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﻮﺍﻓﻖ؟ ! ﺃﻧﺎ ﺭﺍﺿﻴﺔ ﺃﻥ ﺃﻛﻮﻥ ﺯﻭﺟﺔ ﺛﺎﻧﻴﺔ
ﺃﻭ ﺛﺎﻟﺜﺔ ﺃﻭ ﺭﺍﺑﻌﺔ !

Suatu kali, abangku mendatangiku dan berkata: "hari ini telah datang seorang pria untukmu, tapi aku telah menolaknya" dengan spontanitas aku berkata: kenapa? Tidak boleh?, abangku mengatakan kepadaku: "karena ia ingin menjadikanmu istri kedua dan aku tahu kamu memerangi poligami". Hampir aku berteriak di hadapan wajahnya: " kenapa abang tidak
menyetujuinya? Aku rela untuk menjadi istri kedua, atau ke tiga, atau keempat .

ﺍﻵﻥ ﺃﺩﺭﻛﺖ ﺣﻜﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ ﻭﻫﺬﻩ ﺣﻜﻤﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺟﻌﻠﺘﻨﻲ ﺃﻗﺒﻞ ﻓﻜﻴﻒ ﺑﺤﻜﻤﻪ ﺍﻷﺧﺮﻯ؟ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺫﻧﺒﻲ ﻓﻘﺪ ﻛﻨﺖ ﺟﺎﻫﻠﺔ .

Sekarang aku mengetahui hikmah Allah dalam berpoligami, ini adalah satu hikmah yang telah membuatku menerimanya, bagaimana dengan
hikmah yang lain??? Ya Allah, ampunilah dosaku, sungguh aku tidak mengetahui ".

ﻭﻫﺬﻩ ﻛﻠﻤﺔ ﺃﻭﺟﻬﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺃﻗﻮﻝ ﻟﻜﻢ : ﻋﺪﺩﻭﺍ، ﺗﺰﻭﺟﻮﺍ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻭﺛﺎﻧﻴﺔ ﻭﺛﺎﻟﺜﺔ ﻭﺭﺍﺑﻌﺔ ﺑﺸﺮﻁ ‏( ﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ﻭﺍﻟﻌﺪﻝ ‏)، ﺃﻧﻘﺬﻭﻧﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭ ﺍﻟﻌﻨﻮﺳﺔ ﻓﻨﺤﻦ ﺑﺸﺮ
ﻣﺜﻠﻜﻢ ﻧﺤﺲ ﻭﻧﺘﺄﻟﻢ، ﺍﺳﺘﺮﻭﻧﺎ ﺍﺭﺣﻤﻮﻧﺎ .

Ini seruan aku berikan kepada kaum laki-laki, aku katakan kepada kalian: berpoligamilah, menikahlah satu, dua, tiga dan empat, dengan syarat (ada kemampuan dan bersikap adil), selamatkanlah kami dari neraka pertua, kami adalah manusia, kami
merasakan, kami pilu, lindungilah kami, sayangilah kami

ﻭﻫﺬﻩ ﻛﻠﻤﺔ ﺃﻭﺟﻬﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺃﺧﺘﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﺔ ﺍﻟﻤﺘﺰﻭﺟﺔ …

Ini seruan aku berikan kepada saudariku muslimah yang telah menikah.

ﺍﺣﻤﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﻷﻧﻚ ﻟﻢ ﺗﺠﺮﺑﻲ ﻧﺎﺭ ﺍﻟﻌﻨﻮﺳﺔ ﻭﺃﺭﺟﻮ ﺃﻻ ﺗﻐﻀﺒﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺯﻭﺟﻚ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﻣﻦ ﺃﺧﺮﻯ، ﻻ ﺗﻤﻨﻌﻴﻪ ﺑﻞ ﺷﺠﻌﻴﻪ ..

Sanjunglah Allah atas nikmat ini, karena ukhti belum pernah merasakan neraka pertua, aku
berharap janganlah ukhti marah jika suami ukhti ingin menikah lagi dengan wanita lain, janganlah anda halangi dia, akan tetapi doronglah ia .

ﺃﻧﺎ ﺃﻋﺮﻑ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺻﻌﺐ ﻋﻠﻴﻚ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﺣﺘﺴﺒﻲ ﺍﻷﺟﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﻧﻈﺮﻱ ﺇﻟﻰ ﺣﺎﻝ ﺃﺧﺘﻚ ﺍﻟﻌﺎﻧﺲ ﻭﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻭﺍﻷﺭﻣﻠﺔ، ﻣﻦ ﻟﻬﻢ؟ ﺍﻋﺘﺒﺮﻳﻬﺎ ﺃﺧﺘﻚ ﻭﺳﻮﻑ ﺗﻨﺎﻟﻴﻦ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺑﺼﺒﺮﻙ ..

Aku tahu, bahwa ini sulit bagimu, akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah, lihatlah kondisi saudarimu yang pertua, janda cerai, janda kematian suami, siapakah yang mendampingi mereka?
Anggaplah dia saudarimu, anda akan meraih anugerah yang besar disebabkan kesabaranmu .

ﺗﻘﻮﻟﻴﻦ ﻟﻲ ﻳﺄﺗﻲ ﺃﻋﺰﺏ ﻭﻳﺘﺰﻭﺟﻬﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻟﻚ ﺍﻧﻈﺮﻱ ﺇﻟﻰ ﺇﺣﺼﺎﺋﻴﺎﺕ ﺍﻟﺴﻜﺎﻥ، ﺇﻥ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺑﻜﺜﻴﺮ ﻭﻟﻮ ﺗﺰﻭﺝ ﻛﻞ ﺭﺟﻞ ﺑﻮﺍﺣﺪﺓ ﻷﺻﺒﺢ ﻣﻌﻈﻢ ﻧﺴﺎﺋﻨﺎ ﻋﻮﺍﻧﺲ، ﻻ ﺗﻔﻜﺮﻱ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻚ ﻓﻘﻂ ﺑﻞ ﻓﻜﺮﻱ ﻓﻴﻨﺎ

Mungkin ukhti mengatakan kepadaku, seorang pemuda akan datang, dan akan menikahinya. Maka aku mengatakan kepada ukhti: "lihatlah kepada sensus penduduk, sesungguhnya jumlah wanita jauh lebih banyak daripada laki-laki, jika setiap laki-laki menikahi seorang wanita saja, pastilah kebanyakan wanita akan menjadi perawan tua, janganlah ukhti memikirkan diri sendiri saja, akan tetapi pikirkanlah kami .

ﺃﻣﻮﺕ ﺣﺮﻗﺔ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺯﻭﺟﺎ ﻣﻤﺴﻚ ﺑﻴﺪ ﺯﻭﺟﺘﻪ ، ﻭﺗﻬﻴﺞ ﻣﺸﺎﻋﺮﻱ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺑﻼ ﻓﺎﺋﺪﺓ ؟؟؟؟

Aku mati kebakaran ketika melihat seorang suami yang menggenggam tangan istrinya, perasaanku
bergejolak, tapi tanpa manfaat ???

ﺃﺧﺘﻜﻢ / ﺍﻟﻌﺎﻧﺲ

Saudari kalian Perawan tua

ﻓﻮﺍﺋﺪ ﺗﻌﺪﺩ ﺍﻟﺰﻭﺟﺎﺕ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻓﻮﺍﺋﺪ ﺗﻌﺪﺩ ﺍﻟﺰﻭﺟﺎﺕ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺃﻗﻮﻯ ﺩﻋﺎﺋﻢ ﺍﻟﻤﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻔﺔ،،،،،
ﻭﻭﺳﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﻭﺳــﺎﺋﻞ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﺨﻴـﺮ ﻭﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ..
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﻟﺪﻳﻚ ﺍﻟﺸﺠﺎﻋﺔ ﻟﻠﺘﻌﺪﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻭﺟﺎﺕ .. ﻓﺎﺭﺳﻠﻬﺎ ﻟﻤﻦ ﺗﺮﻯ !

Manfaat poligami:
Semua orang tahu bahwa manfaat poligami adalah factor terkuat untuk menjaga dari dosa zina.
Merupakan salah satu sarana terbesar mendapatkan kebaikan, berkah, dan rezki yang
banyak.
Hal ini sudah diketahui oleh orang yang beriman dan berpengetahuan.
Jika kamu tidak memiliki keberanian untuk berpoligami, maka arahkanlah ia kepada siapa yang
anda anggap mampu


Surat Dari Seorang Perawan Tua Kepada Semua Laki-Laki

(Di Terjemahkan Oleh : Ust Muhammad Elvi Syam, Lc. MA ‏)

Sumber: Majalah Sakinah

Inilah Kaki Termahal


Karena Kaki lah,  Sehingga Juventus rela merogoh kocek 100 juta Euro atau sekitar 1,6 Triliun Rupiah Rupiah untuk mendatangkan CRonaldo7 ke Turin.

Karena Kaki lah,   Sehingga Zohri mendapat hadiah 100 juta, Renovasi Rumah & Tawaran pekerjaan tanpa tes serta Pujian yang tak henti-hentinya.

Karena Kaki lah, Sehingga Mbappe bisa membawa Prancis mengangkat Piala Dunia untuk ke-2 kalinya serta mendapat Gelar pemain muda terbaik Pildun 2018.

Karena Kaki jua lah, Sehingga Abdullah bin Mas'ud ditertawakan orang-orang karena memiliki kaki yang kecil, namun dibela oleh Rasulullah

والذي نفسي بيده، لهما أثقل في الميزان من أُحد

  "Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kedua kakinya ini lebih berat dari Gunung Uhud dalam timbangan amal." (HR. Ahmad)

Duhai, apa jadinya diri ini tanpa kaki?

Sungguh nikmat yang besar memiliki sepasang kaki yang sehat, kaki yang bisa berjalan & kaki yang bisa berlari. 

Namun pertanyaanya, kaki seperti apakah yang kita inginkan?

Kaki mahal model CR7 kah?

Atau kaki cepat seperti Zohri kah?

Atau kaki lincah layaknya seorang Mbappe?

Atukah seperti kaki  mulia Abdullah bin Mas'ud  yang mendapat pujian dari Rasulullah?

Sebelum menjawab, ingatlah selalu! bahwa kaki-kaki kitalah yang kelak akan menjadi saksi setiap langkah-langkah dalam kehidupan ini.

 وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

".... dan KAKI mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Yasin : 65)

Maka beruntunglah kaki-kaki yang langkah-langkahnya adalah kebaikan, kaki-kaki yang berjalan di jalan dakwah, kaki-kaki yang melangkah berhijrah, kaki-kaki yang berlari menuju ketaatan kepada-Nya dan kaki-kaki yang tak pernah lelah untuk berjalan menuntut ilmu.

Semoga dengannnya Allah mengizinkan kaki ini menginjakkan Surga-Nya.

Jangan lupa cuci kaki sebelum tidur!

Jumat, 13 Juli 2018

Belajar Dari Syeikh Ammar Bugis, Penakluk Kemustahilan


Sarjana Jurusan Jurnalistik alumnus King Abdul Aziz Universiti, Jeddah, itu tak hanya istimewa karena lulus dengan predikat cum laude. Ada kelebihan lain yang membuatnya mendapat penghargaan langsung dari Gubernur Makkah dan Wilayah Barat Amir Khalid bin Faishal. Ammar Haitsam Bugis, wisudawan itu, adalah seorang pemuda yang mengalami kelumpuhan total sejak bayi berusia dua bulan.Ammar Bugis dilahirkan di Amerika Serikat tanggal 22 Oktober 1986 dalam keadaan normal, ketika berusia dua bulan mengalami kelumpuhan total. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa umur Ammar tidak akan lebih dari dua tahun. Saat kecil, hanya kedua mata dan lidah Hitsam yang bisa bergerak. Ucapannya juga kurang jelas bila berbicara.

Adalah Syaikh Ammar Bugis, pria lumpuh berdarah Makassar. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.

Untuk berjalan, ia harus didorong oleh pendampingnya dalam kereta bayi. Meski demikian, itu tidak menghalanginya untuk tetap terus menimba ilmu pengetahuan dan melawan segala rintangan dan tantangan. Waktu kecil ia sekolah di Amerika, sampai kelas tiga SD di sekolah umum bersama anak-anak yg normal fisiknya dan nilai raportnya istimewa.

Saat sekolah di Amerika, Ammar mendapatkan perlakuan yang baik dari pihak sekolah. Karena kondisi fisiknya yang cacat dan kesehatannya yang sering terganggu, Ammar sering tidak masuk sekolah. Pihak sekolah memakluminya dan mengutus guru wali kelas ke rumah Ammar untuk mengajar Ammar pelajaran yang tertinggal. Selain itu pihak Sekolah juga menemui ayah Ammar yg sedang mengambil program Doktor di Amerika, memberikan masukan kepada Ayah Ammar jangan sampai memberhentikan atau melarang Ammar berangkat ke Sekolah.

Hal lain lagi yang menarik, dalam pelajaran olah raga Ammar tidak bisa mengikuti olah raga bersama teman-temannya, pihak sekolah menyiapkan alat-alat fisioterapi di sekolahnya untuk Ammar berolah Raga sekaligus sebagai bentuk pengobatan dan dipandu oleh seorang ahli fisioterapi.

Selama Ammar belajar di Sekolah ada seorang pemandu khusus untuk menemani Ammar yang disediakan oleh pihak Sekolah selama di sekolah. Ketika Ayahnya selesai dari studi S3 nya dan pulang ke Jeddah – Saudi Arabia, keluarganya tidak mendapatkan sekolah yg mau menerimanya dg alasan ia anak lumpuh yg tidak normal, sekolah tidak mampu untuk memberikan perhatian khusus kepadanya.

Ammar disarankan untuk belajar di Sekolah Luar Biasa. Ammar tetap ingin belajar di sekolah umum dengan anak-anak yang normal. Dari kecil Ammar merasa saya tidak ada bedanya dengan anak-anak yang normal, saya yakin bahwa saya mampu melakukan apa-apa yang mereka lakukan seperti belajar di sekolah yang formal. Ammar tidak ingin dikasihani orang lain.

Akhirnya kakek Ammar dapat meyakinkan salah satu kepala sekolah dan diperbolehkan belajar di rumah (Home Schooling) dan saat tes datang ke sekolah mengikuti ujian. Alhamdulillah Ammar berhasil sampai lulus SMA dengan nilai raport rata-rata 96 dari nilai 100. Cara Ammar belajar, cukup pendamping Ammar dari pihak keluarga menyiapkan buku pelajaran dan diletakkan di samping Ammar sambil berbaring ia membaca sendiri buku pelajaran, jika sudah selesai dua halaman maka pendamping Ammar membalikkan lembaran kertas di buku ke halaman berikutnya, begitu sampai selesai Ammar membaca buku.

Allah berikan kekuatan Hafalan yang luar biasa, Masya Allah. Ammar melanjutkan kuliah di King Abdul Aziz Universiti di Jeddah jurusan Jurnalistik. Ammar minat dengan dunia jurnalistik dan ingin membuktikan bahwa orang yang cacat secara fisik, orang yang berkebutuhan khusus mampu untuk sukses di berbagai bidang. Meskipun diawal mula kuliah mendapatkan tantangan dari sebagian dosen yang menganggap akan merepotkan civitas akademika. Ia tetap berjuang dan sabar menghadapi segala sikap yang tidak mengenakkan dan menyakitinya.

Pernah suatu saat ketika Ammar menuju kelas di kampus, dosen yang akan mengajar di kelas juga berjalan menuju Aula, ketika melihat Ammar, dosen itu menyegerakan langkah kakinya mendahului Ammar masuk kelas dan segera mengunci pintu kelas. Pendamping Ammar segera mengetuk pintu kelas tapi dosen tersebut tidak membukakan pintu.

Meski banyak tantangan, akhirnya Ammar berhasil mendapatkan nilai IP 4,84 dari maksimal angka 5. Dan berhasil sampai lulus dengan nilai istimewa juga mendapat rangking pertama. Pada usia 13 tahun, Ammar sudah hafal Al Quran 30 juz, yang ia hafal dalam dua tahun. Cita-cita jadi wartawan pun terwujud saat ia diterima sebagai jurnalis di harian "Al Madinah" di Jeddah selama lima tahun.

Kini Ammar juga jadi jurnalis di Harian Ukadz, Riyadh. Ia meliput berita Sepak Bola dan menulis di kolom Kemasyarakatan. Suatu hari, Seorang Putera Mahkota Dubai bernama Hamdan bin Muhammad bin Rasyid Al Maktum dijuluki Fazza', sempat melihat film Ammar di You Tube. Setelah itu, ia mengundang Ammar ke Dubai. Ammar ditanya apa keinginannya. Ammar ingin menjadi dosen dan ingin melanjutkan S2. Putera Mahkota memenuhi keinginan Ammar untuk menjadi dosen dan memberikan bea siswa untuk Ammar melanjutkan S2 nya di Dubai.

"Ketika saya melihat tayangan film tentang anda, saya merasa rendah dan belum berbuat sesuatu amal pun. Wahai Ammar selama saya masih diberi Allah umur panjang maka saya akan terus mendukungmu sampai salah satu dari kita berdua menemui ajalnya", kata pangeran Dubai itu haru. Kisah hebat Ammar Bugis juga telah dibukukan dalam judul "Qohir Al Mustahil" (Penakluk Kemustahilan). Buku yang inspiratif dari kisah nyata Ammar Bugis sang penakluk kemustahilan.

Mengawalai nasihatnya dihadapan para dosen dan mahasiswa LIPIA Jakarta, Syaikh Ammar mengomentari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa akal yang selamat hanyalah terdapat pada badan yang sehat, menuurutnya hal ini kurang tepat. "Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang sehat,"kata Ammar mengawali nasihatnya. Hal ini, kata Ammar, terdapat didalam hadits "Jika sepotong daging itu baik, maka baiklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati. Saat beliau menceritakan kesabaran dan ketelatenan ibunya dalam mengurus dan menjaganya sehingga ia saat ini menjadi seorang hafidz Al Quran, para mahasiswa yang hadir menangis tersedu-sedu, bahkan ada beberapa dosen yang bertakbir keras sambil menangis menjerit. Beliaupun menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik sempurna tapi hatinya tidak sesempurna fisiknya."Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, "katanya. Beliaupun menyarankan kepada para Mahasiswa agar giat menghafal Al Quran dan jangan mudah putus asa. "Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat yang pendek terlebih dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu itu saya bisa menghafal satu juz dalam sehari," ujarnya. Setelah kurang lebih satu jam, ceramah di tutup, tiba-tiba seorang dosen dan  pakar Ushul Fiqih asal mesir, DR. Azazi menemuinya dan mencium keningnya. Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas Syari'ah yang mendengarkan ceramah beliau, menangis terharu dan merasa termotivasi oleh nasihat Syaikh Ammar.

Kamis, 12 Juli 2018

JIKA LELAH, JIKA JEMU...


JIKA LELAH, JIKA JEMU...

Sejumlah manusia berkumpul di sana.
Bermajlis entah membahas apa.
Yang pasti bukan hal yang penting
untuk kisah akhirat mereka.
Tapi mereka melakukannya
di sudut rumah Allah.

Al-Hasan al-Bashri terpapar majlis itu.
Sang alim bestari itu bertutur:
"Sesungguhnya mereka itu telah jemu beribadah,
dan mereka temukan: 
berbicara lebih menyenangkan bagi mereka.
Wara' mereka telah terkikis,
hingga (orang lain pun) mereka bicarakan."

*** 

Pada detak waktu yang lain,
Al-Auza'i berpesan untukmu:
"Sesungguhnya sang mukmin itu:
sedikit bicara, banyak beramal.
Namun sang munafik itu:
banyak bicara, amalnya sedikit."

(Siyar A'lam al-Nubala' 7/125)

*** 

Maka kita pun kembali belajar:
Belajar mewaspadai diri sendiri,
yang meski telah tekun bersimpuh di majlis ilmu,
yang telah pandai nian bersilat dalil,
yang hebat sungguh menyingkap silap saudara seiman,
yang tanpa sadar menapuk dada bak ahli surga,
mungkin itu semua senarai pertanda bahwa:
sebenarnya kita malas menapak jejak-jejak penghambaan.
Sebenarnya jiwa kita sudah jemu menghamba padaNya:
menghambakan hati dan jiwa,
menghambakan lisan dan pitutur kita,
menghambakan serangka jasad ini padaNya...

Belajarlah kita mewaspadai diri:
Melupakan berjuta silap dan cela di diri,
Tapi tak jemu melahap daging saudara sendiri
dalam majlis-majlis ghibah teratasnamakan Sunnah!

Belajarlah kita mewaspadai diri:
Saat tangan ini tak terkekang rasa takut,
merangkai kata demi kata penuh fitnah,
membagikannya di majlis-majlis maya (selagi-lagi) atas nama Sunnah!

Belajarlah kita mewaspadai diri, Kawan:
Mungkin semua itu terasa lezat di hati,
karena diri ini telah mewujud nifaq di relung-relungnya!
Jika hatimu bahagia untuk ketergelinciran saudara seiman,
mungkin memang engkau seorang munafiq...

Belajarlah kita mewaspadai diri, Kawan...
Karena kita akan berdiri tegak sendiri
di pengadilan Sang Mahatinggi
yang akan membalas setitik kecil zhalim kejimu
pada saudara mukmin 
yang kehormatannya kau renggut penuh bahagia
di majlis-majlismu, majlis dunia yang fana...

Akhukum,
Muhammad Ihsan Zainuddin

Silahkan berkunjung ke Telegram: